alo bung.
sori baru bisa rada santai sekarang. jadi barulah bisa pula membalas emailmu.
apa yang anda tanyakan tentu tidak semua saya jawab secara detail.
saya pribadi, sebagai seseorang yang telah mencapai tahapan s2, tentu mempunyai jawaban dari sisi saya, yang secara garis besar mungkin akan diamini oleh kawan2 yang lain.
ok, saya coba menjawab ya:
dalam dunia IT ada sesuatu yang menarik, didalam perjalanannya, terkadang pasti kita temui beberapa orang yang memang tanpa gelar, seperti halnya bill gates, dkk, yang dapat menghasilkan sesuatu dan tentu saja berkategorikan sebagai konglomerat di muka bumi ini. secara practical ya, apalagi sekarang ditunjang oleh kemudahan dari sisi akses pengetahuan, mulai dari yang tergampang adalah internet, dan terakhir semakin banyak buku2 di pasaran yang dapat dengan mudah diperoleh. kemudian sekarang2 ini mulai marak yang namanya sertifikasi, asal punya uang (ini yang utama) bisa mendapatkan gelar2 itu dan semakin menunjang eksistensi di bidang yang ditekuni. itu semua dari sisi praktisi
mengenai s2 sendiri, saya memandangnya dari sisi akademisi. saya sebagai bagian dari sedikit orang di dunia ini yang memilih jalan hidup sebagai guru, adalah sangat pantas dan harus memiliki pola pikir, wawasan, serta visi yang jelas mengenai suatu ilmu atau pengetahuan, untuk selanjutnya saya bagi ke anak didik. semua itu adalah diperoleh dari sekolah ataupun bangku kuliah yang nanti akan berhenti setelah mendapatkan gelar Doktor atau s3. tak ada yang memungkiri, karena semakin dalam kami sekolah, semakin pula kami diharuskan memahami hakikat ilmu yang kami pelajari, tetapi tentu saja bidang yang diambil ketika s2 dan s3 adalah bidang yang sejalur atau selaras dengan minat dan kemampuannya. seperti halnya contoh kerucut, dari dasar kita melihatnya itu sama saja seperti kawan2 s1, dimana masih panjang scope atau ruang lingkup yang harus dikenal, mulai dari a – z, sebanyak minimal rata2 140 sks untuk mencapai gelar sarjana. disana itulah diharapkan kawan2 mahasiswa mendapatkan sesuatu, apa yang dirasa cocok untuk dipahami lebih lanjut, dan akhirnya setelah lulus, diperdalam lagi pada tingkatan pasca sarjana dan doktoral, yang pada tingkat tertinggi itu seperti halnya puncak dari kerucut yang semakin menyempit. sesuai dengan gelarnya, seorang doktor diharapkan menguasai filosofi dari suatu ilmu yang ditekuninya.
nah, menurut hemat saya, adalah dua dunia yang berbeda antara akademisi dan praktisi, dimana anda ingin memulai topik pembicaraan. jika saya, jikalaupun saya sebagai praktisi, tetapi sisi akademis saya penting untuk diraih, minimal saya mengantongi gelar sarjana. sedangkan dari sisi akademisi, diharapkan para guru mau pula belajar kondisi real dilapangan, melalui riset, project, ataupun tindakan2 sejenis, sehingga dapat mensinkronkan teori keilmuan dengan kenyataan di lapangan. itulah yang paling ideal, yaitu mengkombinasikan keduanya. saya sendiri berusaha untuk itu, dimana kehadiran saya di kelas adalah sebagai kombinasi, di satu sisi saya tenggelam dari ribuan baris teori yang harus saya baca, dan di sisi yang lain saya menemukan titik terang ketika saya terlibat dalam suatu implementasi, sehingga kemampuan kawan2 di kelas tidaklah hanya bersandar pada zona kenikmatan teori belaka.
tak panjang lebar saya menjawab. setidaknya semoga tulisan ini dapat menjadi pencerahan untuk anda. terima kasih.
salam,